Memakan Hak Waris Saudara Kandung

14 Jan 2014

25326667e211101d6588f8feb0f14796_anakKami ada peninggalan sebidang tanah peninggalan orang tua, lalu ditambah dengan dana kerohiman 13 Jt serta tanah seluas 265 meter pada tahun 1991 dan semua itu di pegang oleh kakak lelaki no 4 dan diatas namakan namanya semua peninggalan itu, Lalu pada tahun 2004 ini di jual tanpa pengetahuan saudara 2x yang lain. Karena sesuatu kehidupan yang sanagt memperhatikan dalam ekonomi saudara meminta hak-hak tersebut ternyata tidak dikasih sedikitpun.

Yang saya pertanyakan:

1. bagaimana hukumnya secara hukum agama
2. bagaimana kalau di angakat secara hukum apa yang harus dilakukan untuk menyelesaikannya, karena secara musyawarah tidak dapat terselesaikan. sehubungan saudara 2x yang lain sangat memperhatikan dalam ekonomi.
jazakumullah, wassalamu,alaikum wr,wb
Hany Akbar - Komplek Palem Semi Jl.Palem Ratu Raya No55, Karawaci Tangerang
Jawaban:
Assalamu `alaikum Warahmatullahi Wabaraktuh.
Alhamdulillah, Washshalatu wassalamu `ala Rasulillah, wa bad.
Harta peninggalan seseorang yang wafat wajib dibagi berdasarkan hukum waris dalam Islam. Kewajiban ini bersifat mutlak dan mengikat semua orang yang mengaku sebagai muslim.
Sengaja meninggalkan tata cara pembagian hukum waris ini adalah merupakan dosa besar dan bentuk perlawanan serta pembangkangan kepada Allah SWT. Maka kepada seorang muslim yang secara sengaja menolak hukum waris, ada ancaman dari Allah SWT untuk dimasukkan ke dalam neraka. Lebih parahnya, Allah SWT juga menegaskan bahwa dia akan kekal selamanya di dalam neraka serta mendapatkan azam yang menghinakan.
Ini tentunya bukan sekedar fatwa untuk menakut-nakuti, sebab yang menegaskan hal itu bukan kami, melainkan Allah SWT sendiri yang menegaskannya di dalam firman-Nya :
Itu (cara pembagian waris) adalah hudud (ketentuan-ketentuan) dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya kedalam syurga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah MEMASUKKANNYA KE DALAM API NERAKA SEDANG IA KEKAL DI DALAMNYA DAN BAGINYA SIKSA YANG MENGHINAKAN (QS. An-Nisa : 13-14)
Tidak ada seorang muslim pun yang berani menetang atau menantang kebenaran ayat ini. Sebab ancamannya tidak main-main. Hanya mereka yang tidak punya iman di dada saja yang masih ingin bermain-main dengan meninggalkan hukum waris.
Memakan harta yang haram
Tindakan menguasai harta milik orang lain yang seharusnya dibagi-bagi secara adil berdasarkan Al-Quran Al-Kariem dan sunnah adalah tindakan haram. Kalau harta itu dimakan, tentu harta yang haram itu akan menjadi darah, daging, tulang dan bagian tubuh. Kalau diberikan kepada anak dan istri, tentu mereka akan memakan harta yang berasal dari yang haram. Padahal Allah SWT telah berfirman :
Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan kamu membawa harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan dosa, padahal kamu mengetahui.(QS. Al-Baqarah : 188)
Orang yang memakan harta haram itu pasti rugi hidupnya. Salah satu sebabnya adalah karena bila dia berdoa, tidak akan dikabulkan. Dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW telah menceritakan kisah seorang yang demikian.
Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda, Wahai manusia, sesungguhnya Allah SWT itu suci dan tidak menerima kecuali yang suci. Dan Allah SWT telah memerintah orang mukin dengan apa yang diperintahkannya kepada para rasul, yaitu Wahai sekalin rasul, makanlah dari harta yang suci dan kerjakanlah perbuatan shalih. Kemudian beliau bercereita tentang seseorang yang dalam perjalanan panjang lalu memanjatkan tangannya ke langit sambil berdoa mengucap Ya Tuhan ya tuhan. Namun makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan mengkonsumsi yang haram. Bagaimana doanya bisa dikabulkan? (HR. Muslim)
Bila saudara Anda itu tetap ingin menguasai sendiri harta itu, maka bisa diadukan kepada pihak yang berwajib. Barangkali dalam hal ini adalah pengadilan agama atau KUA. Terus terang bahwa di negeri ini orang-orang hampir tidak punya perhatian terhadap masalah seperti ini. Sehingga memang sulit menemukan pemecahan yang baik dalam urusan warisan. Apalagi ditambah dengan keawaman para penegak hukum terhadap ilmu hukum waris. Sehingga semakin menambah kompleknya permasalahan.
Namun sebelum mengangkat masalah ini ke meja hijau, tentu sebaiknya dilakukan usaha persuasif yang bisa menyadarkan yang bersangkutan untuk mau kembali kepada hukum agama. Semoga Allah SWT melapangkan hatinya dan membukakan jalan Islam yang terang ini di hadapannya. Amien.

Hadaanallahu Wa Iyyakum Ajma`in, Wallahu A`lam Bish-shawab,
Wassalamu `Alaikum Warahmatullahi Wa Barakatuh.


TAGS 1


-

Author

Follow Me